Tampilkan postingan dengan label Tere Liye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tere Liye. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2016

[Review Buku] Berjuta Rasanya - Tere Liye



Judul Buku: Berjuta Rasanya
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Mahaka Publishing
Tahun Terbit: 2012 (Cet.I)
ISBN: 978-602-9474-03-9
Tebal Buku: 205 hlm
Rate: 3/5
Blurp: 

Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
BottUntuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.  

Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.  

Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa dia akan sempat membacanya. 

Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik. 

Selamat membaca cerita-cerita Berjuta Rasanya  

Sabtu, 04 April 2015

[Review] Moga Bunda Disayang Allah - Tere Liye



Judul Buku: Moga Bunda Disayang Allah 
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal Halaman: 247 
Tahun Terbit: 2007
Rate: 4/5

"Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. Kosong. Tak ada warna....
Senyap! Melati hanya mendengar senyap. Sepi. Sendiri. Tak ada nada...."

Kamis, 02 April 2015

[Review] Bidadari-bidadari Surga - Tere Liye

Judul Buku: Bidadari-Bidadari Surga
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun Terbit: Cetakan 1, Juni 2008
ISBN: 978-979-1102-26-1
Tebal Buku: 368 halaman
Rate: 4/5
Sinopsis
Laisa, putri sulung Mamak Lanuri, mengerahkan segala kemampuannya untuk membela nasib adik-adiknya, Dalimunthe, Ikanuri, Wibisana, Yashinta. Babak (ayah) mereka telah lama pergi, dimangsa Harimau Gunung Kendeng. Laisa telah lama berhenti sekolah dan bekerja membantu Mamak di ladang mereka. Namun, ia tak mau adik-adiknya mengikuti jejaknya berkutat di ladang.

Dalimunthe, berbakat sebagai penemu, dengan percobaan sederhananya dia berhasil membuat sawah kampung mereka tidak lagi tergantung hujan. Ikanuri dan Wibisana, serupa anak kembar tapi tak kembar, ada-ada saja tingkahnya, bolos sekolah, kabur ke kota kecamatan. Yashinta, yang paling kecil, sangat cinta dengan kehidupan satwa-satwa di alam rimba, memiliki tingkat keingintahuan yang luar biasa tinggi.

Karena keikhlasannya dan perjuangan Kak Lais menyekolahkan adiknya, ketika adik-adiknya sukses dalam hidup masing-masing. Baik Dalimunte, Ikanuri, Wibisana mahupun Yashinta tidak pernah melupakan kakak mereka. Sampai masalah perkahwinan pun mereka berkeras, tak mahu melangkahi kakaknya. Namun Segigih apa pun Laisa kini mungkin sudah tiba di penghujungnya. Dan di saat ini, keempat-empat adiknya dipanggil pulang. Pesanan ringkas yang mendebarkan menyebabkan adik-adiknya bagaikan tak cukup tanah untuk berlari.

Jumat, 20 Maret 2015

[Review] Hafalan Sholat Delisa - Tere Liye

Judul buku: Hafalan Sholat Delisa
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun terbit: Cetakan pertama 2005
Rate: 4/5

Ini adalah kisah tentang tsunami…
Ini adalah kisah tentang kanak-kanak…
Ini adalah kisah tentang proses memahami…
Ini adalah kisah tentang keikhlasan…
Ini adalah kisah tentang Delisa…

Senin, 16 Maret 2015

[Review] Ayahku (Bukan) Pembohong - Tere Liye

Judul Buku: Ayahku (bukan) Pembohong
Pengarang: Tere-liye
Penerbit: GPU
Tebal halaman: 304 Halaman
Tahun Terbit: April 2011
Rate: 4/5
Blurp: Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Rabu, 18 Februari 2015

[Review] Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye

Judul Buku: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis: Tere-Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ketujuh, September 2012
Jumlah halaman: 264 halaman
Rate: 4/5

Blurp: Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekalipun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan. Bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.


Sekarang ketika aku tahu dia boleh jadi tak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

Senin, 09 Februari 2015

[Review] Burlian, Serial Anak Mamak - Tere Liye

Judul buku: Burlian
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Jumlah Halaman: 343 halaman
Cetakan pertama: November 2009
Rate: 4/5
Blurp: Kau, sejak dilahirkan memang sudah berbeda, Burlian, Special!
            Waktu melesat bagai peluru. Akhirnya aku mengerti kini, itulah cara terbaik Bapak dan Mamak menumbuhkan keyakinandan rasa percaya diriku. Sejak kecil selalu di bilang aku special agar aku punya pegangan setiap kali terbentur masalah.
            Aku ingat Bapak dan Mamak selalu bilang  “Kau anak yang kuat, Amelia”. Agar si bungsu Amelia yang sakit-sakitan tumbuh menjadi anak yang kuat. Atau bilang kalimat “Kau anak pemberani, Eli”.  Maka jadilah Ayuk Eli seorang pemberaniatas banyak hal. Sedangkan pada Kak Pukat, Bapak dan Mamak selalu bilang, “Kau anak yang pintar”. Dan kini jadilah Kak Pukat seorang peneliti hebat, sepintar kalimat yang selalu ia dengar sejak kecil.

Sabtu, 20 Desember 2014

[Review] Negeri di Ujung Tanduk - Tere Liye


Judul: Negeri di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April 2013
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-979-22-9429-3
Rate: 4/5
Blurp: Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.


Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

Senin, 01 Desember 2014

[Review] Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah - Tere Liye

Judul Novel: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Januari 2012
Jumlah Halaman: 512 Halaman
Rate: 4/5
Blurp: Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya. Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.